WELCOME IN MYBLOG,SETA WIRIAWAN

SELAMAT DATANG

Minggu, 30 Desember 2007

Penanggulangan bencana alam


PRINSIP BANTUAN PMI

Dalam melaksanakan program bantuan, PMI mengantu beberapa prinsip bantuan antara lain:1. Darurat Seperti peranan Perhimpunan Nasional Palang Merah di negara-negara lain, bantuan penanggulangan bencana yang diberikan kepada korban bencana bersifat darurat dan bersifat komplimen/tambahan untuk membantu pemerintah dalam meringankan penderitaan korban bencana (auxiliary to the government)2. Langsung Bantuan PMI harus diberikan secara langsung oleh tenaga PMI kepada korban bencana, tanpa perantara, sehingga dapat langsung dirasakan oleh para korban.3. Beridentitas Palang MerahUntuk memudahkan pengenalan, pengendalian, pengawasan dan untuk meningkatkan citra PMI, serta kepercayaan donatur, Petugas PMI dalam penanggulangan korban bencana harus memakai tanda Palang Merah (PMI). Hal ini juga dilakukan pada tempat, sarana dan fasilitas yang digunakan oleh PMI di lapangan.4. Materi BantuanBantuan PMI kepada korban bencana adalah dalam bentuk Material (pangan atau non-pangan) dan Jasa (pendampingan, konseling dan advokasi)

TATA LAKSANA PROGRAM PENANGGULANGAN BENCANA
Di dalam melaksanakan tugas memberikan pertolongan dan bantuan kepada korban akibat bencana alam atau terjadinya konflik dilakukan oleh tenaga KSR dan TSR yang sudah terlatih di bawah komando PMI Cabang.
Setiap orang yang luka siapapun dia dan meskipun dia ikut serta dalam peristiwa kekerasan tersebut, dia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pertolongan pertama . Petugas harus menggunakan seragam Palang Merah dan harus mempunyai akses kepada semua pihak, karena petugas tersebut bersifat netral dan tidak memihak. Tugasnya hanya membantu semua korban tanpa perbedaan.
Apabila dampak dari kejadian bencana alam atau konflik tersebut mengakibatkan pengungsian penduduk yang memerlukan penanganan bersama, maka PMI Cabang harus meminta bantuan penanganan kepada PMI Daerah bahkan sampai ke tingkat pusat.
Untuk menjaga kemungkinan terjadinya bencana baik bencana alam maupun bencana konflik, di beberapa daerah yang rawan harus dibentuk tim khusus yang disebut SATGANA (Satuan Siaga Penanggulangan Bencana). Anggota SATGANA tersebut terdiri dari dari anggota KSR dan TSR yang sudah terlatih dengan pengetahuan khusus. KSR yang masuk ke dalam Tim SATGANA dapat berasal dari KSR Unit Perguruan Tinggi atau KSR Unit PMI Cabang yang terpenting dapat melaksanakan tugas setiap saat diperlukan.
Apabila penanganan korban/pengungsi tersebut sangat komplek dan tidak mungkin ditangani oleh PMI sendiri, maka PMI dapat meminta bantuan /dukungan kepada Palang Merah Internasional dalam bentuk permohonan bantuan ( disaster appeal) ditujukan kepada IFRC, dan kepada ICRC bila itu bencana konflik.
Apabila diperlukan , PMI Pusat dan Daerah dapat bekerjasama dengan ICRC atau IFRC untuk membentuk sebuah tim khusus yang bertugas dalam kurun waktu tertentu hingga unsur PMI setempat mampu mengambil alih tugas-tugas yang dilaksanakan oleh Tim Khusus tersebut. Anggota Tim Khusus dapat direkrut dari unsur-unsur pengurus PMI, staf senior (Pusat, Daerah maupun Cabang), KSR terlatih dari lintas daerah dan KSR PMI Cabang setempatSecara umum, ada tiga fase dalam langkah-langkah penanggulangan bencana, yaitu fase prabencana, fase saat bencana terjadi, dan fase pasca- bencana. Dalam hal bencana tsunami yang menimpa Aceh (juga sebagian Sumatera Utara), dari ketiga fase ini, menurut pengamatan penulis, baru pada fase ketiga media massa umumnya memberikan perhatian penuh. Media massa mengerahkan kru dengan kekuatan ekstra untuk diterjunkan ke lapangan maupun sebagai "jangkar" di markas besar. Laporan para awak media massa ini diterbit- kan/disiarkan dengan frekuensi yang tinggi, mengabarkan hampir semua aspek penting yang terkait dengan bencana ini.
Hasilnya pun patut disebut positif (terlepas dari sejumlah liputan, terutama media televisi, yang bisa dikategorikan sebagai melanggar etika jurnalistik berkaitan dengan disturbing images alias gambar-gambar yang menusuk hati) karena berhasil menggerakkan emosi bangsa untuk ikut merasakan derita para korban, lalu mengulurkan bantuan konkret guna meringankan derita itu. Liputan luas media massa ini juga berhasil mempertemukan sejumlah keluarga yang semula tercerai-berai tak berkabar. Namun, keterlibatan media massa pada fase ketiga ini bisa juga berbuntut negatif apabila dijalankan tanpa pertimbangan yang ekstra hati-hati, antara lain kecenderungan untuk menjadikan derita para korban sebagai "jualan", entah untuk kepentingan bisnis murni atau bisa pula demi kepentingan lain, seperti keuntungan politik dan pencitraan diri.
Untuk fase kedua, kinerja media massa Indonesia masih mengecewakan. Bencana ini terjadi pada Minggu pagi, 26 Desember 2004, tetapi sebagian besar media massa Indonesia baru memperoleh informasinya dengan agak lengkap sekian jam kemudian. Memang ada sejumlah media, misalnya saja detik.com yang telah memberitakan peristiwa ini sejak pukul 08.30 di bawah judul "Gempa Berkekuatan Besar Guncang Medan". Baru pada pukul 10.11, detik.com memberikan informasi yang menyebutkan Aceh sebagai kawasan yang terkena bencana (di bawah judul "Banjir Bandang Landa Aceh").
Televisi Indonesia kelihatan tak sigap memberikan respons. Metro TV termasuk yang paling awal memberitakannya, tetapi itu pun terpaut cukup jauh sesudah peristiwa terjadi. Sejumlah televisi lain seperti tak begitu menaruh perhatian, dan baru sore hari bahkan malam harinya mulai agak gencar memberitakan bencana itu. Ada juga televisi yang baru memberitakannya sebagai breaking news pada pukul 22.00, sudah amat sangat terlambat dan sama sekali tak layak lagi disebut sebagai breaking news. Padahal berita ini sudah disiarkan oleh BBC dan CNN sejak menjelang tengah hari. BBC, menurut penulis, merupakan media yang terdepan memberitakan bencana ini, bahkan sudah memaparkan sejumlah data penting sebagai kelengkapan beritanya, misalnya saja data jumlah penduduk di wilayah yang terkena, juga peta yang relatif lengkap untuk memudahkan pemirsa membayangkan besaran bencana.
Keterlambatan media siaran dalam memberikan respons terhadap peristiwa-peristiwa penting, seperti bencana alam, agak sulit diterima. Dalam saat-saat genting seperti itu, hanya media siaranlah yang menjadi andalan utama masyarakat karena media cetak dan media on-line memiliki keterbatasan dari segi waktu maupun aksesibilitas.
Sosialisasi berkelanjutan
Media massa bahkan lebih abai lagi untuk urusan fase pertama, yaitu fase prabencana. Padahal, justru fase ini sangat berperan dalam menyediakan informasi-informasi dasar yang akan menjadi pegangan masyarakat saat berhadapan dengan bencana alam. Informasi yang disebarluaskan melalui media secara rutin dan berkala merupakan alat pendidikan informal bagi masyarakat tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan bencana alam, termasuk cara-cara dasar dan praktis menghadapinya. Salah satunya adalah ihwal sederhana seperti gejala menyurutnya air laut menjelang datangnya tsunami seperti disebutkan di awal tulisan ini.
Informasi yang disediakan oleh media massa ini akan menjadi semacam peringatan dini bagi masyarakat, yang mengingatkan mereka secara terus- menerus bahwa mereka berdiam di wilayah yang rentan bencana, dan harus bersiaga setiap saat untuk menghadapinya. Media massa juga bisa memfasilitasi diskusi publik mengenai kesiapan menghadapi bencana dan bagaimana cara meresponsnya.
Peran media massa sebagai alat penyebarluasan informasi yang utama menjadi sangat penting dalam penanggulangan bencana. Sejumlah pakar, di antaranya Stephen Rattien, menyebutkan bahwa komunikasi, terutama komunikasi melalui media massa, merupakan sesuatu yang sentral dalam upaya menyelamatkan banyak nyawa manusia serta juga mengurangi penderitaan dan kerugian yang besar secara ekonomi.
Dalam bencana alam yang sulit diramalkan seperti halnya tsunami, agak sulit pula bagi media massa untuk memberikan peringatan dini. Namun, jika proses sosialisasi informasi tentang tsunami ini dilakukan secara berkelanjutan, masyarakat akan terus-menerus diingatkan mengenai ancaman bencana dan akan lebih sigap dalam memberikan respons. Misalnya saja, masyarakat bisa mengidentifikasi lokasi-lokasi yang memiliki ketinggian berlebih, entah di rumah para tetangga yang bertingkat atau di daerah perbukitan, sebagai tempat yang dituju saat menyelamatkan diri.
Sayangnya, tak banyak media yang dengan sadar dan sukarela melakukan proses sosialisasi seperti ini. Untuk Indonesia, ada beberapa media cetak yang cukup rajin melakukan upaya ini, misalnya saja Kompas dan Ko- ran Tempo, dengan menggalang informasi secara berkala dari para pakar bencana, atau lembaga-lembaga resmi yang bertanggung jawab mengurusi masalah ini. Akan tetapi, untuk radio dan televisi, upaya sosialisasi semacam ini masih jarang terdengar. Kedua jenis media ini biasanya memberitakan bencana hanya pada saat-saat bencana terjadi atau memberikan peringatan ketika bencana sudah sangat dekat di depan mata.
Sebuah studi yang dilakukan di Puerto Riko beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa keengganan sebagian besar media (terutama media siaran komersial milik swasta) melakukan sosialisasi berkelanjutan ini terkait dengan hitungan bisnis. Pihak berwenang dalam urusan bencana di negeri itu telah menyiapkan rekaman video dan audio yang berisi materi sosialisasi bencana, dan sudah dikirimkan ke sejumlah media penyiaran. Namun, pihak media menilai materi untuk keperluan sosialisasi itu tak sedramatis dibandingkan jika bencana itu benar-benar terjadi, atau dengan kata lain: tidak bisa mendatangkan uang. Media siaran tak mau menyediakan jam siar secara gratis karena itu sama artinya dengan mengurangi jam yang sebetulnya bisa dijual kepada pengiklan. Dalam kondisi seperti
ini, salah satu andalan utama sumber informasi masyarakat adalah radio komunitas.
Bencana tsunami yang menyisakan derita panjang ini hendaknya dapat dijadikan titik tolak bagi media massa, khususnya media siaran, untuk meninjau ulang kebijakan pemberitaan mereka mengenai bencana alam. Sudah saatnya media massa menempatkan informasi tentang bencana alam sebagai salah satu prioritas utama sejak dari fase pra-bencana. Mungkin benar bahwa kebijakan seperti ini tidak mendatangkan keuntungan yang nyata. Namun, ia akan berperan sebagai bagian penting dari langkah pencegahan. Sebagaimana dikatakan Sekjen PBB Kofi Annan, "Strategi pencegahan yang lebih efektif tidak hanya akan menyelamatkan biaya puluhan miliar dollar, namun juga puluhan ribu jiwa…. Membangun sebuah budaya pencegahan tidaklah mudah. Biayanya harus dibayar saat ini, padahal keuntungannya baru akan kita petik jauh di masa datang."

Evakuasi yang Lamban


Evakuasi Korban Lamban MELAHIRKAN DI PERAHU,

Sri Lestari (terbaring), warga Desa Dumpel, Kec Geneng, Ngawi, Jawa Timur, melahirkan anak laki-laki saat dievakuasi Tim Satlak Penanggulangan Bencana Pemkab Ngawi, kemarin. Sri bersama bayinya lantas dilarikan ke RSU dr Suroto Ngawi untuk mendapatkan pertolongan medis KARANGANYAR (SINDO) – Keterbatasan alat berat dan kendala cuaca menghambat proses evakuasi korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri, kemarin. Pemerintah setempat kesulitan mendatangkan alat berat di lokasi longsor di dua kabupaten yang paling parah terkena musibah. Sejumlah warga juga mengeluhkan distribusi bantuan yang belum merata. Hingga kemarin, korban meninggal dunia yang sudah ditemukan,66 orang di Karanganyar dan 7 orang di Wonogiri. Satu korban tewas ditemukan di wilayah Kecamatan Karanganyar kota akibat terseret arus. Proses evakuasi korban longsor di Dusun Ledoksari, Kelurahan Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu belum berjalan maksimal karena keterbatasan alat. Dari total 37 korban yang masih tertimbun, baru 6 korban tewas yang ditemukan. Mereka adalah Hamid, 5, Maryani, 15, Parlan, 27, Irfan, 3,Hanif,4,dan Ny Dody. Proses evakuasi yang dilakukan sejak Rabu (26/12) hingga kemarin siang berjalan sangat lambat. Alat berat tidak bisa dibawa masuk lokasi lantaran kondisi jalan sangat kecil dan curam. Puluhan personel TNI-Polri, tim SAR, dibantu berbagai elemen masyarakat hanya menggunakan alat seadanya seperti cangkul, sekop, dan linggis. Proses evakuasi sedikit terbantu setelah satu alat backhoe ukuran kecil berhasil didatangkan. Selain minimnya peralatan, proses evakuasi juga terhambat hujan deras yang sempat mengguyur wilayah Tawangmangu sekitar satu jam. Akibatnya, evakuasi sempat dihentikan sementara untuk mengantisipasi terjadinya longsor susulan. Musibah longsor Kamis (27/12) lalu juga melanda jalur Karanganyar–Matesih. Tanah longsor yang terjadi kedua kalinya di Desa Koripan, Kecamatan Matesih ini, membuat jalur utama menuju Kecamatan Tawangmangu kembali terputus. Pasalnya, jalur utama Karanganyar– Tawangmangu yang melalui Kecamatan Karangpadan belum bisa dibuka meski satu alat berat telah didatangkan ke lokasi. Kepala Seksi Kesiagaan dan Penanggulangan Bencana Kantor Kesbanglinmas Pemkab Karanganyar Heru Aji Pratama kepada SINDO mengatakan, dalam proses evakuasi hari kedua, tiga korban ditemukan secara berturut turut sekitar pukul 08.00 WIB. ”Tiga korban ini adalah Hamid, Maryani, dan Parlan,” kata Heru. Kemudian secara berturut turut, tiga korban lain yakni Irfan, Hanif, dan Ny Dody. Heru juga mengatakan bahwa sebagian besar warga di Dusun Ledoksari enggan meninggalkan rumah untuk mengungsi. Mereka hanya mengungsi sementara di tempat sanak saudara yang masih satu dusun dan dirasakan aman dari bahaya longsoran. Bupati Karanganyar Rina Iriani menjelaskan, saat ini pihaknya masih fokus mengevakuasi korban yang belum ditemukan. ”Kami juga sudah mendatangkan kantong-kantong mayat,” kata Rina. Sementara bantuan yang akan diberikan kepada para korban, saat ini masih dikoordinasikan dengan jajaran terkait. Secara keseluruhan, Pemkab Karanganyar pada 2007 ini telah menyiapkan anggaran untuk bencana di pos tak tersangka sebesar Rp5 miliar. Evakuasi di Wonogiri Kendala evakuasi korban juga dialami warga dan aparat di lokasi longsor di wilayah Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Hingga kemarin, baru tujuh dari 17 korban yang bisa ditemukan.Sulitnya akses menuju lokasi membuat aparat Pemkab setempat kesulitan mendatangkan alat berat. ”Sejauh ini evakuasi masih menggunakan cara manual dengan sekop, cangkul serta disemprot dengan air. Alat berat susah didatangkan ke lokasi,”terang Bupati Wonogiri Begug Purnomisidi. Dari pantauan di lapangan, musibah longsor ini terjadi di empat titik pada dua wilayah kecamatan, yakni Tirtomoyo dan Manyaran. Di Tirtomoyo, longsor melanda Dusun Sanggrahan dan Pagah, keduanya masuk wilayah Desa Hargantoro dan Dusun Semangin, Desa Sendangmulyo. Jumlah korban meninggal 16 orang dan 2 korban luka berat. Sementara di Dusun Pagah, dari tujuh korban yang tertimbun longsor, lima korban telah ditemukan. Korban terakhir yang ditemukan adalah Mbah Marinah, 70 dan cucunya, Novitasari, 11. Dia ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB. Hingga kemarin di lokasi ini masih ada dua korban yang belum ditemukan. Sementara di Dusun Semangin, dari tujuh korban longsor belum ada satu pun yang ditemukan. Ketujuh korban ini berasal dari dua kepala keluarga. Sedangkan di Kecamatan Manyaran, jenazah Sidomulyono, 55, warga Kopen RT 04, Desa Bero, hingga petang kemarin juga belum berhasil ditemukan. Camat Tirtomoyo Tarjo Harsono mengungkapkan, untuk melakukan evakuasi ini, pihaknya menerjunkan sekitar 150 petugas yang terdiri atas berbagai unsur termasuk masyarakat sekitar.Dia mengakui lambatnya evakuasi ini karena kesulitan mendatangkan alat berat. ”Medannya sulit dijangkau,” tegasnya. Selain kendala alat, evakuasi korban longsor di Wonogiri juga terhalang cuaca. Kemarin sore, hujan lebat masih mengguyur wilayah yang terkenal dengan Waduk Gajah Mungkurnya ini. Kemarin beberapa pejabat Pemkab Wonogiri mengujungi lokasi tanah longsor di Semangin. Wakil Bupati Wonogiri Y Sumarmo melihat secara langsung proses evakuasi. Sumarmo menyatakan Pemkab Wonogiri akan memberikan santunan kepada korban bencana alam, baik korban meninggal dunia, luka berat, maupun yang rumahnya rusak. Mengenai distribusi bantuan, Kepala Desa Sendangmulyo Darto menjelaskan, pihaknya baru menerima bantuan dua karung beras dan 20 kardus mi instan dari pemerintah. Padahal di rumahnya, yang juga dijadikan posko bencana, setiap hari sekitar 92 kepala keluarga (KK) mengungsi di tempat ini. ”Bantuan itu sudah habis untuk memberi makan warga yang mengungsi di sini. Itu belum termasuk untuk membuatkan nasi bungkus bagi petugas dan relawan yang melakukan evakuasi korban,” terangnya. Relokasi Sementara itu, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah mengatakan, pemerintah berencana merelokasi rumah-rumah penduduk korban longsor di Kabupaten Karanganyar. Pemerintah menyiapkan dana yang bersumber dari pos anggaran penanggulangan bencana alam dalam APBN 2008 untuk mendukung program relokasi tersebut. ”Pemerintah akan membantu merehabilitasi dengan membangun kembali rumah-rumah penduduk yang rusak karena tertimbun,” kata Bachtiar Chamsyah seusai upacara pelantikan lima duta besar Republik Indonesia untuk negara sahabat di Istana Negara, Jakarta, kemarin. Dia menuturkan, pemerintah telah mengirimkan bantuan logistik berupa beras dan mi instan ke lokasi bencana, termasuk perlengkapan untuk penanganan tanggap darurat bencana seperti tenda dan alat evakuasi. Menurut Chamsyah, anggaran Departemen Sosial untuk penanggulangan bencana alam telah bertambah sekitar Rp450 miliar. ”Dana ini dalam jangka panjang akan kita realisasikan untuk membantu para korban bencana alam,”katanya. Dia mengatakan, bagi korban longsor di Kabupaten Karanganyar, pemerintah akan memberi bantuan pembangunan yang didasarkan pada setiap rumah yang rusak, yaitu Rp10 juta dari pemerintah pusat dan Rp5 juta bantuan pemerintah daerah. ”Pencarian tempat relokasi nanti kita tanya kepada Bupati, karena dia (Bupati) yang tahu lokasi aman,” katanya. (ary wahyu wibowo/ agus joko/ainun najib)

Evakuasi / penyelamatan




Penanganan yang Komprehensif
Para difable atau korban selamat yang kemudian menjadi difable saat terjadinya bencana mengalami persoalan dalam penyusaian diri terhadap kondisi fisik, psikologis, dan sosial yang ada setelah terjadinya bencana. Perubahan fisik yang terjadi selain menimbulkan trauma psikologis juga menimbulkan persoalan sosial bagi mereka. Seringkali kondisi tersebut memunculkan konflik batin bagi korban yang bersangkutan untuk bisa menerima kenyataan bahwa kondisi fisik mereka sudah tidak seperti dulu.
Ketika seseorang menjadi difable, maka dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sebagian fungsi tubuhnya hilang, itu artinya dia juga harus kehilangan pekerjaan yang sebelumnya mereka miliki. Berbeda dengan para korban lain yang dengan begitu cepat dapat menyesuaikan diri, para difable memiliki kebutuhan khusus untuk dapat segera kembali melakukan aktifitas normalnya sehari-hari. Untuk itu maka penanganan paska bencana harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan berbagai sudut pandang, baik dari segi infrastruktur fisik, ekonomi dan sosial. Dengan begitu persoalan – persoalan yang dihadapi oleh difable paska bencana dapat diminimalisir.
Dalam perencanaan rekonstruksi bangunan paska terjadinya bencana alam semaksimal mungkin harus mempertimbangkan faktor aksesibilitas sehingga fasilitas yang dibangun dapat mengakomodasi keberadaan para difable. Hal ini juga berlaku pada saat emergency respond di daerah pengungsian, dimana fasilitas yang dibangun harus juga memperhatikan keberadaan para difable sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari. Selain itu kebutuhan yang perlu dipertimbangkan adalah pertama,sistem komunikasi yang aksesible. Sistem komunikasi dalam situasi bencana memainkan peranan penting dalam keselamatan korban. Selama ini kita masih banyak menggunakan sistem komunikasi audio seperti alarm untuk menyampaikan peringatan terjadinya bahaya bencana. Sistem seperti ini jelas tidak dapat diakses oleh mereka kelompok difable rungu. Sehingga memang sudah seharusnya didesain sebuah sistem komunikasi audio visual sehingga memungkinkan para difable rungu untuk mengaksesnya. Kedua desain sistem evakuasi bencana yang aksesible sehingga memungkinkan untuk mengevakuasi para difable yang memiliki persoalan mobilitas di situasi bencana. Ketiga, tentang bagaimana membangun sistem distribusi bantuan yang merata dan memungkinkan bantuan tersebut dapat diterima langsung oleh yang membutuhkan. Sistem distribusi bantuan yang ada sekarang sangat tidak memungkinkan bagi para difable dan kelompok rentan lain untuk mengaksesnya. Sehingga kondisi ini menyebabkan para difable seringkali tidak mendapatkan jatah mereka kecuali hanya menggantungkan dari belas kasihan teman dan saudara.
Dimensi lain yang perlu diperhatikan dalam situasi bencana adalah dimensi ekonomi.Banyak dari para korban bencana yang kemudian kehilangan mata pencaharian paska terjadinya bencana karena rusaknya infrastruktur dimana mereka dulu bekerja. Selain itu hilangnya mata pencaharian juga disebabkan oleh kondisi sebagian mereka yang menjadi difable sehingga kehilangan fungsi tubuhnya untuk melakukan aktifitas bekerja sebagaimana sebelumnya. Untuk itu perlu didesign sebuah sistem pengembangan ekonomi bagi para korban bencana yang bertumpu pada semangat kewirausahaan dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi lokal yang dimiliki daerah. Untuk itu pemberian bekal ketrampilan untuk mengolah potensi lokal harus segera dilakukan serta segera menghentikan pemberian bantuan yang bersifat karitatif. Karena pemberian bantuan karitatif dalam jangka waktu lama hanya akan membuat para korban menjadi tergantung dan tidak mandiri.
Dimensi terakhir adalah dimensi sosial psikologi. Dimana dimensi ini sangat berpengaruh dalam kehidupan selanjutnya para difable di masyarakat. Sementara ini masih banyak pandangan di masyarakat bahwa difable merupakan sebuah kondisi yang tidak menguntungkan dan perlu untuk dikasiani atau disantuni. Sebagian para difable sendiri juga masih memandang difable sebagai kondisi yang memalukan sehingga ada kecendrungan dari para difable untuk mengurung diri di rumah. Pandangan-pandangan tersebut menjadi telah menjadi hambatan sosial bagi para difable untuk melakukan interaksi sosial di masyarakat secara penuh. Oleh karena itu perlu dirancang sebuah program dan aktifitas yang memberi kesempatan bagi para difable untuk berpartisipasi secara terbuka dalam aktifitas sosial di masyarakat.
Kita memang tidak dapat mengelak terhadap terjadinya bencana alam dan akibat yang ditimbulkannya. Yang dapat kita lakukan hanyalah bagaimana kita dapat meminimalisir penderitaan yang dialami oleh para korban dengan memberikan pelayanan bantuan sebaik-baiknya.

Hal yang dilakukan pra maupun saat terjadi bencana





Masyarakat Dibuat Siap Menghadapi Bencana




Sebenarnya kita harus banyak belajar dari setiap kejadian yang menimpa kita. Apapun kejadian tersebut, bagaimanapun kejadian tersebut, baik kejadian yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan.Salah satunya adalah bencana alam. Maksud bencana atau musibah adalah pergiliran kepada manusia, dan sebagai batas agar manusia tidak menyombongkan diri dan membanggakan diri (QS. Al Hadiid:23). Menghadapi bencana alam adalah sebuah tindakan baik tindakan pra-bencana, tindakan saat bencana, dan tindakan pasca bencana.

Tindakan pra-bencana
Adalah tindakan yang diupayakan untuk menghindari bencana, sebelum terjadi bencana. Caranya adalah dengan adanya peringatan awal (early warning) akan terjadinya bencana. Kemudian masyarakat juga harus di-sosialisasikan bagaimana menghadapi bencana (gempa, banjir, gunung meletus, badai dsb). Banyak artikel atau tips tentang bagaimana menghadapi musibah. Ini dilakukan agar masyarakat mengerti apa yang akan dilakukan (tindakan preventif) apabila kalau2 terjadi bencana.

Tindakan saat bencana
Adalah tindakan yang dilakukan saat bencana, bila bencana memang benar-benar terjadi. Cara ini bergantung pada usaha-usaha yang dilakukan pada point pertama (tindakan pra bencana). Minimal, sosialisasi bagaimana menghadapi bencana sudah dilakukan dengan baik dan masyarakat dapat melalukannya saat terjadi bencana. Misal, bagaimana seharusnya yang dilakukan apabila terjadi gempa, segera keluar dari bangunan dsb.
Perlindungan Bencana Gempa Bumi
Dewasa ini semakin banyak kota besar berpenduduk puluhan juta orang dibangun di kawasan kegempaan aktif. Karena itu perlindungan terhadap ancaman bencana harus menjadi prioritas.
Bencana gempa bumi dewasa ini amat ditakuti, karena sering menimbulkan korban jiwa dan memusnahkan harta benda. Padahal, gempa bumi adalah gejala alam yang memang akan terus menerus terjadi di bumi yang dinamis ini. Hanya saja pertumbuhan penduduk amat pesat, serta konsentrasi populasi di kawasan tertentu yang sebetulnya rawan gempa Bumi, menyebabkan jatuhnya korban jiwa cukup banyak.
Salah satu peristiwa gempa Bumi hebat, yang selalu disebut-sebut dalam sejarah geologi, adalah gempa bumi dahsyat di San Fransisco tahun 1906. Pada saat itu lebih dari tiga ribu orang tewas akibat gempa berkekuatan 7,8 skala Richter tersebut. Tapi, sebetulnya gempa lebih hebat pernah mengguncang California tahun 1857 dengan kekuatan lebih dari 8 pada skala Richter.
Pada tanggal 9 Januari 1857 gempa hebat mengguncang kawasan Fort Tejon, yang lokasinya sekitar 100 km di utara Los Angeles. Lempengan di kedua sisi sesar San Andreas sepanjang 350 km bergerak vertikal sampai sembilan meter, bahkan sungai Kern alirannya berbalik arah kembali menuju hulu. Para geolog memperkirakan, gempa di Fort Tejon berkekuatan lebih dari 8 pada Skala Richter. Namun karena saat itu belum ada seismograph, kekuatan gempanya hanya dapat ditaksir dari perubahan yang terjadi akibat kekuatan gempa.
Gempa yang terjadi 150 tahun lalu itu nyaris luput dari perhatian. Gempa besar tahun 1906 di San Fransisco lebih banyak dibicarakan, demikian diungkapkan direktur pusat penelitian bencana dan risiko bencana di Universitas Columbia di New York Art Lerner Lam.
“Penyebabnya, mengapa semua lebih banyak membicarakan gempa bumi tahun 1906, karena kerusakannya dialami sebuah kota yang sedang tumbuh, yang menarik perhatian seluruh warga AS. Dan tragedi itu terjadi di saat koran-koran sudah mampu dengan cepat memberitakan bencana semacam itu. Tahun 1857, gempa bumi melanda kawasan yang jarang penduduknya di California, dan sebagai konsekuensinya peristiwa itu tidak banyak dibicarakan.“
Memang ketika itu demam emas menarik banyak orang beremigrasi ke California, tetapi hampir semua berbondong-bondong datang ke bagian utara, bukannya ke bagian selatan yang kering. Gempa besar yang melanda Fort Tejon tahun 1857 hanya menyebabkan tewasnya dua orang warga. Sementara tahun 1906 juga menjadi titik acuan bagi penelitian gempa bumi modern. Dalam kaitan inilah, berdasarkan pengetahuan baru yang berhasil dihimpun, para geolog menemukan terjadinya gempa di Fort Tejon sekitar 50 tahun sebelum gempa besar California. Demikian diungkapkan oleh pakar sejarah gempa bumi di Universitas Columbia, Lyn Sykes.
“Yang paling penting ketika itu, adalah kenyataan bahwa setelah gempa bumi tahun 1906, gubernur California membentuk sebuah komisi, yang ditugasi meneliti gempa tersebut. Jadi sejumlah geolog datang ke kawasan ini, dan akhirnya berhasil menemukan sesar San Andreas. Dalam penelitiannya mereka melaporkan terjadinya gempa bumi hebat tahun 1857.“
Tentu saja temuan jejak gempa bumi hebat ketika itu belum dapat mengungkapkan apa pemicu terjadinya gempa bumi. Patahan atau sesar besar San Andreas memang dapat ditemukan, namun bagaimana mekanisme atau gaya apa yang mempengaruhi terjadinya gempa, belum banyak diketahui. Di awal kegiatan penelitian gempa bumi modern, teori mengenai pergerakan lempeng tektonik belum muncul. Baru pada tahun 1912 peneliti kutub dan pakar ilmu kebumian Jerman, Alfred Wegener, melontarkan teori mengenai tektonik lempeng bumi.
Teori Wegener mengenai lapisan kerak bumi yang tipis, yang mengambang di atas cairan inti bumi yang kental, dan terus bergerak secara dinamis, selalu dipertentangkan para ahli geologi sampai lima dasawarsa. Baru di akhir tahun 50-an teori tektonik lempeng dapat dibuktikan kebenarannya. Teori Wegener yang digabung dengan data sejarah geologi kawasan kegempaan aktif, dapat dijadikan acuan untuk peramalan gempa di kawasan tersebut. Sykes menjelaskan: “Banyak sekali situs penelitian digali di sepanjang sesar San Andreas. Dan di banyak lokasi, kami dapat melihat jejak gempa bumi di masa lalu. Beberapa diantaranya berumur antara seribu hingga dua ribu tahun.“
Data mengenai sejarah gempa bumi semacam itu, kini dihimpun dalam bank data global, yang diberi nama Hot-Spots bencana alam, yang dibuat oleh Universitas Columbia. Dalam hot-spots itu antara lain ditampilkan analisis global mengenai kawasan mana yang terancam bencana apa, serta tindakan pencegahan apa yang disarankan. Art Lerner Lam menjelaskan lebih lanjut: “Dalam kaitan dengan gempa besar, seperti misalnya yang terjadi tahun 1857, bagi kami hal itu berarti, apakah kami memiliki kapasitas yang memadai untuk dapat menghadapi bencana hebat semacam itu. Di dunia Barat yang sudah maju, saya pikir, kita sudah memiliki kemampuannya dari sisi ekonomi, sosial maupun budaya. Akan tetapi, di negara berkembang hal ini masih merupakan masalah besar, karena di sana belum tersedia jaring pengaman semacam itu.“
Hot-Spots kawasan bencana alam ini amat berguna, untuk dapat memprediksi terjadinya bencana di kawasan aktif. Bank Dunia mendukung pembuatan bank data global kawasan potensial bencana alam di Universitas Columbia. Sebab dewasa ini sekitar 3,4 milyar penduduk dunia, bermukim di kawasan potensial bencana alam, khususnya gempa bumi. Gagasan di balik pembuatan peta kawasan bencana alam itu, terutama untuk memperkecil dampak dari bencana alam, khususnya di negara-negara berkembang. Selain itu, tentu saja untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar. Bank Dunia melibatkan diri dalam penelitian kawasan potensial bencana alam ini, untuk dapat menarik keputusan cepat dalam pemberian bantuan; siapa yang harus mendapat prioritas bantuan dan segawat apa bencana alamnya.
Pemetaan lempeng tektonik menunjukan, potensi ancaman bencana berbeda-beda tergantung dari struktur dan kedalaman zone subduksi lempeng tektoniknya. Namun dalam tema pencegahan bencana, terdapat standar yang relatif sama, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Di kawasan rawan gempa misalnya, aturan mengenai konstruksi bangunan dan tatalaksana lahan harus dipatuhi. Sekolah dan rumah sakit tidak boleh dibangun di dekat patahan aktif. Serta penyuluhan terus menerus mengenai ancaman bencana alam.
Akan tetapi, semua juga harus menyadari, bencana selalu datang secara tidak terduga, juga di kawasan yang sudah tergolong relatif siap menghadapi bencana alam. Dan sekarang ini harus juga diperhitungkan jumlah korban jiwa cukup besar. Karena semakin banyak kota besar berpenduduk puluhan juta orang, yang dibangun di kawasan rawan gempa.

Sabtu, 29 Desember 2007

Gempa dahsyat


Gempa bumi Bengkulu 2007


Gempa bumi Bengkulu 2007 mula terjadi pada hari Rabu, 12 September 2007 jam 6.10 malam. Gempa bumi pertama terjadi dengan kekuatan 8.4 skala Richter di 155 km barat daya Bengkulu, selatan Sumatera dan 718 km dari Johor Bahru[3]. Amaran tsunami telah dikeluarkan untuk gempa ini.
Jabatan Meteorologi Malaysia menyatakan lokasi gempa bumi itu ialah di 4.5` Selatan dan 101` Timur.
Pusat Amaran Tsunami Pasifik di Hawaii, Amerika Syarikat menyatakan gempa bumi 7.9 skala richter itu boleh mendatangkan ombak besar, tsunami sebagaimana tsunami pada 26 Disember 2004 yang membunuh 230,000 di pelbagai negara. Pantai barat Semenanjung Malaysia, pulau Nicobar, pulau Cocos, pulau Andaman, pulau Christmas, Australia, Sri Lanka dan India mungkin terjejas.
Amaran tsunami ditarik balik apabila ombak setingi 1 - 3 meter berlaku di Padang, Sumatera. Ketinggian tsunami kecil itu tidaklah berbahaya. Jurucakap Presiden,
Andi Mallarangeng menyatakan seorang terbunuh di Bengkulu. Tentera Nasional Indonesia dikerah bagi membantu mangsa gempa bumi itu. Stesen televisyen Metro TV melaporkan beberapa bangunan runtuh dan terbakar.
Gempa bumi itu dirasakan hingga ke
Johor Bahru, Lembah Kelang dan di Kedah. Pekerja di Wisma Antara, Indonesia merasakan bangunan itu bergoyang dan bergegas turun melalui tangga kecemasan. Penduduk di kondominium Bukit Saujana, Taman Desa Cemerlang, rumah pangsa Bukit Cagar dan di Gelang Patah turut merasa gegaran itu. Mereka agak terkejut dan pening. Pekerja di Menara Petronas turut bergegas turun dan terus pulang ke rumah.
Mohd Rosaidi Che Abas , Pengarah Jabatan Meteorologi Malaysia masih memantau dan mengikuti perkembangan di Indonesia.[4]

igaLebih kurang 14 jam selepas gempa kuat yang melanda wilayah kepulauan Indonesia, satu lagi gempa bumi kuat bermagnitud 7.8 pada
skala Richter berlaku di Bengkulu, selatan Sumatera pada pukul 7.40 pagi. Menurut kenyataan Jabatan Meteorologi Malaysia, pusat gempa bumi itu terletak di latitud 2.7 selatan dan longtitud 100.7 timur, 575km barat daya Johor Bahru.
Terdapat laporan mengenai gegaran berkenaan turut dirasai di pantai barat Semenanjung Malaysia tetapi tiada ancaman tsunami dikeluarkan kepada Malaysia ekoran gegaran kedua itu.
Kemudian, satu lagi gempa berlaku di Sulawesi pada pukul 5.48 petang dan ketiga di negara kepulauan Asia Tenggara itu dalam tempoh 22 jam. Gempa bumi terbaru berukuran 6.4 pada skala Richter itu pada mulanya dikhuatiri menyebabkan tsunami tetapi jangkaan itu kemudian ditarik balik oleh Agensi Meteorologi Indonesia.
Setakat ini, tiada kemusnahan dan kehilangan jiwa dilaporkan akibat gempa bumi terbaru ini tetapi gempa semalam menyebabkan sekurang-kurangnya 10 maut sementara berpuluh-puluh yang lain dikhuatiri terperangkap di bawah runtuhan bangunan.
Gempa bumi tersebut berpusat pada kedalaman 30 kilometer di bawah dasar laut di satu kawasan di tengah laut yang terletak kira-kira 290 kilometer ke timur laut Bitung iaitu pelabuhan utama di utara Sulawesi.
Pusat Kajian Geologi Amerika Syarikat (USGS) pula menyatakan gempa bumi yang dicatatkan berlaku pada pukul 5.48 petang (sama waktu dengan Malaysia) itu berukuran 6.6 Richter.
Pagi ini satu gempa bumi berukuran 7.8 Richter telah menggemparkan penduduk di rantau Asia Tenggara apabila amaran tsunami dikeluarkan oleh pihak berkuasa.
Ia merupakan susulan kepada gempa berukuran 8.4 Richter yang berlaku pada pukul 7.10 petang semalam di Kepulauan Mentawai, Sumatera.
Setakat ini, sekurang-kurangnya 10 penduduk dilaporkan terbunuh sementara 49 lain cedera akibat gempa bumi yang menyebabkan gegaran pada bangunan tinggi di sekurang-kurangnya tiga buah negara di rantau ini.
Selain Indonesia, antara negara yang melaporkan kesan gegaran ialah Malaysia, Singapura dan Thailand.

Lebih 15,000 rumah dan bangunan runtuh , 23 kematian dan 88 cedera selepas 40 gegaran gempa bumi melanda pantai Bengkulu , Padang dan barat Sumatera sejak 13 September - 15 September 2007.
Di
Bengkulu hampir 2000 rumah ranap dan 4000 lagi rosak teruk. Lebih 90 hospital dan klinik rosak teruk.100 buah masjid dan 20 sekolah habis musnah.
Helikopter Hercules milik Tentera Nasional Indonesia menggugurkan bungkusan makanan ke pulau-pulau di Mentawai, luar pesisir pantai barat Sumatera kerana jalan lain terputus.
[sunting] Kemungkinan lebih teruk
John Galetzka dari Institut Teknologi California semakin pasri gempa bumi dan tsunami sedahsyat Tsunami 2004 akan berlaku tidak lama lagi.
[sunting] Tsunameter
22 tsunameter akan dipasang di dasar Lautan Hindi. Tsunameter atau boya DART 2 ini tajaan Agensi Pembangunan Antarabangsa Amerika (USAID), Program Sistem Amaran Tsunami Di Lautan Hindi (IOTWS) , Agensi Oseanografi dan Atmosfera Kebangsaan Amerika (NOAA) dengan kebenaran Indonesia akan dipasang secepat mungkin.4 buah boya ATLAS untuk pemantauan perubahan iklim akan turut dipasang.
Boya Penilaian dan Laporan Tsunami Laut Dalam (DART 1) telah dipasang sebelum ini. Tsunameter atau boya DART ini dimajukan oleh Makmal Alam Sekitar Marin Pasifik NOAA di Seattle, Washington.
Lokasi boya ini tepat pada garisan Khatulistiwa iaitu 00` Utara dan 890` Barat. Iaitu di luar pantai Padang, Sumatera. Boya ini akan dikendalikan bersama oleh Pentadbiran Oseanografi dan Atmosfera Kebangsaan Amerika (NOAA) dan Agensi Penilaian dan Aplikasi Teknologi Indonesia (BPPT), di bawah Kementerian Sains dan Teknologi Indonesia.
[5]


Ramai pakar geologi mengkaji semula apakah benar Malaysia bebas dari Lingkaran Api Pasifik . Tsunami 2004 ternyata menberi kesan buruk kepada Malaysia. Gempa bumi Bengkulu 2007 pada skala 8.4 skala Richter ternyata memberi kesan gegaran kepada bangunan tinggi di Kuala Lumpur seperti TH Selborn. Apakah bangunan tinggi seperti Menara Petronas,Menara Telekom,Tabung Haji,Dayabumi,Komtar,Maybank dan lain-lain kebal gegaran 9.0 skala Richter.
Setakat ini Ketua Kajian Kejuruteraan Gempa Bumi dan Struktur,
Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Prof. Madya Dr. Azlan Adnan berkata tidak ada satu pun bangunan di Malaysia direka bentuk tahan gempa bumi.[6] Rekaan bangunan di Jepun memang bersedia menghadapi gegaran kerana sering berhadapan dengan gempabumi. Mereka menggunakan teknologi lapik getah sintatik di setiap bangunan dan jamnbatan dan dapat meminimakan kesan gegaran. Selepas ini arkitek dan jurutera di Malaysia harus mengambilkira risiko ini.

Jumat, 28 Desember 2007

Banjir bahorok

PENYEBAB TERJADINYA BANJIR BANDANG DI SUNGAI BOHOROK PADA TANGGAL 2 NOPEMBER 2003(Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara)

Berdasarkan Hasil Survei dan Temuan Lapangan Unit Manajemen Leuser sampai saat ini
Kawasan yang dilanda banjir bandang Bohorok terdiridari empat kawasan:
Kawasan yang mengalami tanah longsor berat.
Areal di atas kawasan tanah longsor.
Areal yang mengalami Tanah Longsor ringan.
Kawasan di sekitar Bukit Lawang dipenuhi dengan puing kayu. Kawasan ini dijelaskan satu persatu pada bagian 1-4 di bawah ini dan ditandai pada peta terlampir. Kemungkinan penyebab banjir diuratakan secara garis besar di bagian 5 disertai beberapa rekomendasi yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
1. Kawasan yang mengalami tanah longsor berat
Lokasi: 9-20 km di sebelah barat desa Bukit Lawang, di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (Catatan: Luas areal TNGL secara keseluruhan kurang dari sepertiga Kawasan Ekosistem Leuser.
Luas areal: diperkirakan sekitar 5.385 hektar.
Ciri-ciri fisik: lereng yang curam dengan kemiringan > 60% dan ketinggian 500 m sampai lebih dari 1,250 m di atas permukaan laut (BPD Land System: Precipitous oriented metamorphic mountain ridge).
Areal tanah longsor: terjadi pada banyak lokasi (antara 300-700) masing-masing 0,25-2,0 hektar (lebar tanah longsor 20-200 m; tinggi pada lereng gunung 50-500 m).
Penebangan liar: dari udara tidak terlihat tanda-tanda penebangan liar (illegal logging); tidak ditemui jalan atau jejak yang terkait dengan illegal logging; tidak terlihat tanda-tanda intervensi manusia; semua kayu gelondongan yang masih tergeletak di lereng gunung memperlihatkan bahwa pepohonan tumbang akibat tanah longsor.
Tingkat (luas) kerusakan hutan: diperkirakan sekitar 40% kawasan hutan runtuh dan jatuh ke dalam sungai disebabkan oleh tanah longsor yang terjadi secara alami.
Volume kayu yang terjatuh ke dalam sungai di bawah: berdasarkan taksiran sementara lebih dari 3 juta meter kubik kayu (pohon, kayu gelondongan, akar, dan dahan berbagai ukuran).
Volume kayu gelondongan yang terjatuh tetapi masih berada di lereng atau di sepanjang pinggiran sungai: > 3-10 ribu meter kubik kayu gelondongan.
Jumlah bendungan yang terbentuk secara alamiah: mungkin banyak, dan semakin membesar menelusuri aliran sungai ke arah Pongo Resort.
2. Areal di atas kawasan tanah longsor
Lebih jauh ke arah barat dari areal tersebut di atas yaitu kawasan lereng yang termasuk dalam DAS Sungai Bohorok menuju punggung utama gunung (main ridge) dari arah selatan ke utara dengan ketinggian sekitar 2200 - 2800 m, yang memisahkan Langkat dari wilayah Aceh, tidak terlihat tanda-tanda kerusakan hutan.
Kawasan hutan di daerah ini terlihat jelas tidak pernah terusik oleh intervensi manusia. Ada indikasi bahwa kawasan ini pernah mengalami erosi secara alami dalam skala yang jauh lebih kecil, sekitar satu titik longsor setiap 0,5 - 1,0 km, dan terlihat bekas tanah longsor yang belum begitu lama terjadi, demikian juga halnya dengan vegetasi berwarna hijau muda tanpa adanya batang pohon yang menandakan bahwa areal lahan tersebut sedang melalui proses pemulihan kembali secara alami setelah mengalami longsor sebelumnya.
3. Areal yang mengalami Tanah Longsor ringan
Lokasi: 0-9 km di sebelah barat Pongo Resort (bangunan resmi yang paling jauh ke hulu, 1 km dari Bukit Lawang, arah ke atas dari kawasan rumah penginapan yang disapu banjir).
Luas areal: > 900 hektar.
Ciri-ciri fisik: lereng yang curam di sepanjang pinggiran sungai dengan ketinggian 50 m sampai lebih dari 500 m di atas permukaan laut (masih termasuk bagian dari BPD Land System dengan tingkat kemiringan rata-rata sebesar 60%).
Areal tanah longsor: jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang tersebut di atas (sekitar 60-100 lokasi dengan lebar tanah longsor 10-50 m; dan tinggi di tebing gunung 50-100 m).
Penebangan liar: tidak terlihat; juga tidak ditemukan areal hutan yang ditebang atau jalan yang terkait dengan kegiatan illegal logging.
Tingkat (luas) kerusakan hutan: ditaksir hanya 2-3% hutan yang runtuh ke dalam Sungai Bohorok disebabkan tanah longsor yang terjadi secara alami.
Volume kayu yang terjatuh ke dalam sungai di bawah: ditaksir tidak lebih 1% dari seluruh kayu yang ada di sungai berasal dari kawasan ini (mungkin hanya 25.000 - 100.000 meter kubik pohon, kayu gelondongan, akar, dan dahan berbagai ukuran).
Volume kayu gelondongan yang masih berada di lereng atau di sepanjang pinggiran sungai: ribuan meter kubik kayu (mungkin 2.000-5.000 m3).
Jumlah bendungan yang terbentuk secara alami: Paling tidak ada satu bendungan besar 3,5 km di sebelah barat Pongo Resort yang diduga terbangun secara alami dalam proses terjadinya banjir bandang tersebut.
4. Kawasan di sekitar Bukit Lawang dipenuhi dengan puing kayu
Gambar-gambar pada hari pertama setelah banjir memperlihatkan bahwa:
i. Tidak ada kayu gelondongan yang terbawa arus memiliki tanda (bekas) chain-saw.ii. Sebagian besar kayu tersebut memiliki akar atau pangkal batang (buttresses).iii. Sejumlah besar kayu gelondongan tersebut telah kehilangan kulit, bahkan hampir secara menyeluruh. iv. Sebagian besar puing-puing sampah (debris) yang terdampar di pinggir sungai mencakup berbagai bagian dari pohon kayu, termasuk diantaranya dahan berbagai ukuran, batu-batuan ukuran besar maupun kecil, dan lumpur. v. Di lokasi tidak terlihat adanya chain-saw untuk memotong kayu gelondongan dalam upaya mengangkat tubuh manusia korban banjir. vi. Tumpukan puing kayu yang terbentuk memiliki ciri-ciri seperti bendungan berdinding puing kayu sampai setinggi 3 m, terdiri dari tumpukan batang kayu dimana sela-sela antar batang kayu tersebut ditutupi rapat oleh puing kayu lainnya dari berbagai ukuran seperti dahan-dahan, akar pohon, batu-batuan besar dan kecil, daun-daunan serta lumpur. vii. Terlihat ada potongan kayu bangunan dalam jumlah kecil, tetapi tidak berarti sama sekali dibanding puing-puing kayu secara keseluruhan, diduga berasal dari bagian bangunan rumah yang runtuh dilanda banjir dan dibawa arus bersama kayu lainnya. viii. Diameter rata-rata kayu gelondongan yang terbawa arus adalah jauh lebih kecil dibanding diameter rata-rata pohon di kawasan hutan dataran rendah yang masih utuh pada ketinggian di bawah 500 m, dan konsisten dengan ukuran pohon yang tumbuh pada ketinggian antara 500 hingga 1.200 m di atas permukaan laut (diameter rata-rata pohon berkurang dengan bertambahnya ketinggian). ix. Jumlah kayu (yaitu akar pohon, batang dan dahan) yang bertebaran konsisten dengan luasnya kejadian tanah longsor di kawasan hulu. x. Areal kecil di sebelah utara (tidak jauh dari Pongo Resort) terlihat pada beberapa gambar seolah-olah telah mengalami erosi, sebenarnya terbuka karena pembukaan jalan dengan bulldozer, tetapi tidak terkait sama sekali dengan banjir ini. xi. Kawasan lebih jauh ke arah utara dari lokasi ini yang secara resmi termasuk dalam kategori HPT (Hutan Produksi Terbatas) tidak terkait secara langsung sebagai penyebab banjir, dan bahkan beberapa ratus meter ke arah hulu dari Pongo Resort, di sisi timur laut Sungai Bohorok, terdapat kawasan hutan yang masih utuh. xii. Air bah yang melanda Bukit Lawang seluruhnya datang menelusuri rute sungai dari pegunungan di belakang Pongo Resort, dan oleh karena itu kawasan mana saja yang berada lebih jauh ke hilir tidak dapat dihubungkan sebagai penyebab terjadinya banjir tersebut. xiii. Illegal logging yang terjadi di dalam kawasan Taman Nasional, tidak jauh dari Bukit Lawang (di sebelah barat daya Pongo Resort adalah bagian dari sub DAS yang lain) tidak terkait dengan DAS Bohorok yang mengalami banjir Bandang, tetapi airnya mengalir ke Sungai Bohorok, jauh ke sebelah selatan dari Bukit Lawang.
Gambar-gambar pada hari pertama setelah banjir memperlihatkan bahwa:
i. Tim-tim penolong memakai alat chain-saw.ii. Banyak kayu gelondongan besar baru saja terpotong oleh tim penolong untuk mengambil mayat korban yang ditemukan berdasarkan bau yang timbul dari proses pembusukan.
Masih terciumnya bau damar (resin) pada kayu yang belum dipotong mengkonfirmasikan bahwa kulitnya baru saja terkupas (yaitu pada saat banjir).
Komentar sementara orang yang menyatakan bahwa ada banyak kayu gelondongan yang telah diberi nomor mungkin berasal dari lokasi lain di dekat Bohorok, atau mungkin dari kayu gelondongan yang dipotong oleh Tim Penolong, tetapi hal ini tidak konsisten dengan gambar-gambar yang diambil pada hari pertama di sekitar lokasi musibah.
Komentar dari sementara pihak yang mengatakan tumpukan ratusan kayu gelondongan dalam keadaan bersih untuk mengkonfirmasikan bahwa kayu tersebut berasal dari illegal logging sepintas lalu dapat dipahami, tetapi hal ini tidak berdasarkan fakta. Kayu gelondongan ini sebenarnya berasal dari pohon-pohon yang utuh dan terjatuh ke jurang 14 - 18 km di kawasan hulu, dan dalam perjalanan dihanyutkan air sejauh itu secara bersama-sama menghantam tebaran batu-batu besar di dasar dan tebing sungai dan benturan antar sesama batang kayu sehingga diantaranya berpatahan atau terbelah dalam ukuran yang lebih kecil/pendek serta kulitnya untuk sebagian besar terkelupas total. Proses ini kurang lebih sama dengan meletakkan setumpukan dahan yang baru patah ke dalam mesin pengaduk semen yang berisikan batu-batu besar, kemudian membiarkan benda-benda tersebut berbenturan berjam-jam lamanya hingga hancur berkeping-keping.
Masyarakat lokal di sekitar Bukit Lawang telah menikmati manfaat kawasan konservasi yang telah terkenal di dunia internasional tersebut selama hampir 30 tahun lamanya, berdasarkan waktu berdirinya Pusat Rehabilitasi Orangutan (sekarang tempat melihat-lihat orangutan). Mereka dipercaya tidak dapat menikmati manfaat ini seandainya terdapat illegal logging dalam jumlah besar di kawasan hulu Pongo Resort.
Meluasnya illegal logging di TNGL, termasuk pada hampir semua daerah di pinggiran Taman Nasional ke arah utara dan selatan Bukit Lawang, kalaupun ada kaitannya, bagaimanapun bukan merupakan penyebab langsung banjir bandang Bohorok. Kawasan tersebut termasuk dalam bagian sistem daerah tangkapan air yang berbeda. Oleh karenanya, illegal logging di kawasan sekitar DAS Bohorok sebagaimana diperkirakan pemerhati lingkungan sebagai penyebab tidak langsung, mungkin saja demikian halnya karena perusakan hutan tersebut dapat mempengaruhi iklim regional, yang pada gilirannya barangkali ikut menyebabkan curah hujan yang tinggi di kawasan DAS Bohorok.
5. Kemungkinan alasan terjadinya banjir bandang secara alami
Erosi dapat terjadi secara alami saat hujan lebat pada musim penghujan di lereng yang curam dengan lapisan tanah yang rapuh pada areal pegunungan yang lebih tinggi dimana tanah mengalami tingkat kejenuhan air (saturasi). Bila curah hujan pada malam terjadi bencana mencapai 101 mm seperti yang dilaporkan oleh BMG Wilayah I, maka dari kawasan Pongo Resort (seluas 16.000 hektar) diperkirakan menerima kiriman air dari daerah tangkapan air Sei Bohorok sebanyak kurang lebih 10 juta meter kubik. Disamping curah hujan yang sangat lebat pada malam terjadinya banjir, juga ada kemungkinan pengaruh lain yang berasal dari tingginya curah hujan yang dicatat BMG paling tidak di bulan September (672 mm) dan Oktober (750 mm) dan pada dua malam pada tanggal 13 September: 120 mm, 17 September: 110 mm, dan 2 Nopember: 101 mm. Juga sedang dijajaki adanya pengaruh seismik yang terjadi beberapa minggu sebelumnya.
Erosi yang terjadi secara alami di lereng yang curam menumbangkan pohon. Pohon yang tumbang menimbulkan dampak domino, dimana pohon yang tumbang menumbangkan pohon lain di tempat yang lebih rendah, dan juga pohon di lokasi yang lebih rendah menarik hingga tumbang pohon dari tempat yang lebih tinggi karena liana atau keterkaitan akarnya satu sama lain. Hal ini menyebabkan runtuhnya secara alami bagian dari hutan di lereng yang curam tersebut, rata-rata seluas 0,25-2,0 hektar.
Kayu/vegetasi/batu/tanah yang runtuh ke dalam jurang yang curam menyumbat aliran sungai di bawah sehingga tercipta bendungan setiap kali terjadinya longsor yang besar. Air yang berasal dari curah hujan lebat beberapa malam sebelumnya tertahan di dalam bendungan hingga akhirnya bendungannya runtuh. Kayu yang terapung meluncur ke arah hilir sambil menabrak bendungan lain atau tikungan yang tajam sehingga tercipta bendungan yang lebih besar. Dalam kenyataannya diperkirakan terbentuk serangkaian bendungan yang semakin menuju ke arah hilir (ke arah Pongo Resort) semakin besar, seperti bola salju yang meluncur.
Bendungan terakhir yang runtuh karena tekanan air dalam jumlah besar menjelang Bukit Lawang diduga telah mengirim secara mendadak semburan air yang dahsyat dan deras ke arah desa di sekitar Bukit Lawang bersama batangan kayu bagai senjata misil perusak massal yang meluncur dengan kecepatan > 30 km/jam. Mungkin misil ini berisi beberapa ratus ribu meter kubik air.
Dengan demikian, banjir bandang yang membawa malapetaka di Bukit Lawang merupakan akibat langsung dari bencana alam - pecahnya bendungan yang penuh dengan kayu, yang terbentuk sebagai akibat dari tanah longsor karena hujan lebat di musim hujan. Ini berarti, tidak ada kaitannya secara langsung dengan illegal logging.
Disamping itu, meskipun ada rencana pembangunan bagian 'ALASKA' (trase Alas-Selat Malaka, dari Titi Pasir (Lawe Pakam) ke Bohorok) dari jaringan jalan Ladia Galaska melalui daerah ini, masih belum ada pembangunan jalan yang telah memasuki DAS Bohorok di Langkat.
Walaupun illegal logging tidak terkait secara langsung sebagai penyebab banjir bandang, bukan berarti tidak ada kemungkinan adanya kaitan secara tidak langsung yaitu melalui perubahan iklim lokal yang disebabkan oleh perambahan kawasan hutan di kawasan sekitarnya . Dengan demikian, merajalelanya kegiatan illegal logging di seluruh kawasan TNGL di Langkat, (di seberang daerah tangkapan air Bohorok , di Aceh Tenggara, dan di banyak lokasi lain di KEL), mungkin saja telah menimbulkan perubahan iklim lokal, sehingga meningkatkan kekeringan pada musim kering dan meningkatkan curah hujan disertai erosi dan tanah longsor di musim penghujan. Bila keterkaitan ini terbukti oleh penelitian lebih lanjut, maka hal ini dapat disimpulkan sebagai penyebab yang menentukan (ultimate cause) ketimbang mengatakan adanya penyebab langsung dan tidak langsung.
6. Rekomendasi
Kayu dalam jumlah besar masih berada di lereng dan pinggiran sungai, arah bagian hulu sungai dari Bukit Lawang, dan hal ini mengancam keselamatan manusia. Untuk mencegah terjadinya kembali malapetaka seperti ini, semua rumah dan bangunan lainnya yang berada di dekat sungai di kawasan Bukit Lawang sebaiknya dibangun kembali di kawasan lain yang lebih aman (di luar kawasan tersebut), dan di Bukit Lawang dibuat tanda peringatan bahaya banjir. Selain itu, kawasan dalam jarak tertentu pada kedua sisi sungai harus difungsikan sebagai kawasan lindung sesuai Keputusan Presiden No. 32 Thn 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
Sistem lahan BPD yang terdapat di DAS Bohorok, dengan kemiringan lereng lebih dari 60% merupakan sistem lahan yang dominan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Sistem lahan ini mencakup sekitar 39% dari luas KEL. Mengingat bahwa sistem lahan ini dan sistem lahan sejenisnya yang secara alami sangat peka terhadap longsor dan erosi yang rawan terhadap bencana alam, segala upaya perlu dilakukan untuk mencegah gangguan manusia pada sistem lahan ini. Proyek pembangunan prasarana, misalnya, tidak boleh dilaksanakan pada sistem lahan ini. Oleh sebab itu, rute proyek pembangunan jalan Ladia Galaska yang sedang dikerjakan melintasi Kawasan Ekosistem Leuser di Aceh pada saat ini perlu direvisi supaya jalan tersebut tidak membelah sistem lahan yang rapuh tersebut.
Mengingat bahwa illegal logging telah merajalela di banyak tempat Kawasan Ekosistem Leuser dan sering menimbulkan bencana banjir seperti banjir bandang Bohorok yang melanda Bukit Lawang, Pemerintah perlu melakukan upaya maksimal untuk menghentikan kegiatan illegal logging di KEL. Pemerintah harus membubarkan sindikat-sindikat yang terlibat di dalam illegal logging termasuk pihak-pihak yang memberikan beking baik secara langsung maupun secara politis, serta menuntut pihak-pihak yang terlibat.
Penguasa Darurat Militer di Aceh telah mengambil langkah pertama yang merupakan kemajuan besar dan penting dalam upaya penghentian aktivitas illegal logging yang telah berlangsung selama lebih 20 tahun di Aceh, tetapi beberapa kegiatan illegal logging masih berlangsung sehingga perlu diciptakan cara yang efektif untuk membebaskan kawasan ini dari tindak yang melanggar hukum tersebut setelah berakhirnya masa darurat militer.

Angin puting beliung




Angin Puting Beliung Sapu Ratusan Rumah di Cihampelas


(06-12-2007)


Bandung - Ratusan rumah warga di Kampung Sasak Kubur, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Kamis siang sekitar pukul 13.10 WIB disapu angin puting beliung disertai hujan deras dan hujan es.Menurut Acim (50) salah seorang warga setempat, akibat bencana alam puting beliung itu ratusan rumah warga rusak bagian atapnya, bahkan ada beberapa rumah warga yang selain rusak tersapu angin, juga roboh tertimpa batang pohon yang tumbang."Angin puting beliung yang mirip angin ulur-ulur itu hanya terjadi sekitar lima menit, namun akibatnya ratusan rumah warga rusak dan beberapa rumah roboh tertimpa bahan pohon yang tumbang," katanya.Ia mengatakan, kerusakan sebagian besar dialami rumah warga yang semi permanen dan terbuat dari kayu, angin puyuh itu menerbangkan ribuan genting rumah warga dan menumbangkan pohon yang berada di kebun maupun pekarangan.Dikatakannya, meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, belasan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal dan ratusan lainnya menderita kerugian materiil yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah."Hingga Kamis sore belum ada bantuan dari Pemda setempat maupun dari kecamatan, sebagian warga berupaya mengatasi musibah itu dengan cara bergotong royong mendirikan kembali bangunan yang rusak," ujarnya yang diamini puluhan warga lainnya. (*)